Ditjen LIP Percepat Penyusunan Dokumen Rancangan Teknis Cetak Sawah dan Optimasi Lahan TA 2026

Ditjen LIP Percepat Penyusunan Dokumen Rancangan Teknis Cetak Sawah dan Optimasi Lahan TA 2026

Jakarta (27/02/26) — Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian (Ditjen LIP), Kementerian Pertanian menggelar koordinasi percepatan penyusunan Dokumen Rancangan Teknis (dokumen SID) untuk kegiatan Cetak Sawah Rakyat (CSR) dan Optimasi Lahan (Oplah) Tahun Anggaran 2026. Kegiatan ini dipimpin oleh Direktur Pemetaan Lahan dan Irigasi Pertanian, Dr. Andy Wijanarko, S.P.,M.Si dan dihadiri oleh Plt. Staf Ahli Menteri Bidang Infrastruktur Pertanian, Dr. Ir. Ali Jamil, M.P., Ph.D.,; Direktur Pelindungan dan Optimasi Lahan, Dr. Dede Sulaeman, S.T., M.Si.,; Kapoksi Perencanaan Ditjen LIP serta perwakilan berbagai perguruan tinggi pelaksana, baik yang hadir secara luring maupun daring.

Koordinasi ini bertujuan memastikan proses administrasi dan teknis berjalan paralel sehingga pekerjaan konstruksi CSR dan Oplah dapat segera dimulai. Penyusunan Dokumen Rancangan Teknis untuk Oplah maupun Cetak Sawah ditargetkan selesai dalam waktu dua bulan, sehingga dokumen dapat rampung pada Maret–April dan proses pemaketan konstruksi dapat berjalan tepat waktu.

Diinformasikan, adapun target penyusunan Dokumen Rancangan Teknis kegiatan Oplah dan CSR tahun 2026 adalah seluas 300 ribu hektar dan penandatanganan kontrak pelaksanaan kegiatan-kegiatan tersebut dengan sejumlah perguruan tinggi telah dilaksanakan tahap 1 pada tanggal 10 Februari 2026.

Dalam Pembukaannya, Plt. SAM Bidang Infrastruktur Pertanian mengatakan bahwa pelaksanaan kegiatan Oplah harus difokuskan pada Lahan Baku Sawah (LBS) eksisting.

“Oplah itu harus LBS (Lahan Baku Sawah eksisting) karena atas saran Bapak Menteri Pertanian bahwa lahan-lahan kita masih banyak yang berindeks pertanaman (IP) 1, maka harapannya jika dilakukan oplah  maka IP-nya bisa berubah menjadi IP 2 bahkan sampai IP3. Lahan sawah rawa kita rata-rata masih IP 1. Dengan demikian, Oplah ditujukkan untuk meningkatkan intensitas tanam dan produktivitas pada lahan sawah yang sudah ada,” ujarnya

Selanjutnya, Direktur Andy Wijanarko menyampaikan bahwa “Berdasarkan hasil monitoring, masih ditemukan lokasi yang tidak layak masuk dalam dokumen rancangan teknis, untuk itu diharapkan para penyedia pelaksana dapat meningkatkan kualitas dokumen rancangan teknis (SID) karena akan sangat menentukan keberhasilan konstruksi di lapangan, karena kontraktor tidak bisa melaksanakan pekerjaan jika desainnya tidak tepat”.

Ditambahkan Direktur Andy bahwa “Dokumen Rancangan Teknis harus disusun secara akurat dan sesuai dengan kondisi lapangan agar dapat langsung digunakan sebagai dasar pelaksanaan konstruksi. Penyusunan SID untuk cetak sawah ditargetkan selesai dalam waktu dua bulan, sehingga tidak menghambat tahapan konstruksi serta pencapaian target tanam pada tahun berjalan”.

Dalam koordinasi ini, sejumlah perguruan tinggi juga menyampaikan dinamika lapangan pelaksanaan rancangan teknis, seperti konflik lahan, perbedaan data kabupaten dan provinsi, kendala kewenangan infrastruktur primer/sekunder, hingga tantangan wilayah kepulauan yang membutuhkan mobilitas pembiayaan yang besar. 

Dalam proses percepatan ini, Ditjen Lahan dan Irigasi Pertanian juga memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah, tim penyedia, serta pemangku kepentingan terkait. Sinkronisasi data spasial, validasi calon lokasi, serta kesiapan petani menjadi perhatian utama agar kegiatan yang direncanakan benar-benar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Melalui percepatan penyusunan Dokumen Rancangan Teknis TA 2026, Ditjen Lahan dan Irigasi Pertanian optimistis dapat meletakkan dasar yang kokoh bagi keberhasilan program cetak sawah dan optimasi lahan. Upaya ini diharapkan tidak hanya meningkatkan produksi pertanian nasional, tetapi juga memperkuat kesejahteraan petani dan ketahanan pangan Indonesia secara berkelanjutan.

Dipublikasikan : 28 Feb 2026, humas